alert("Selamat Datang Sang Pejuang Pesisir...!!!") goodbye alert ("terimakasih atas kedatngannya semoga keseharian kita dalam ridho SANG MAHA KUASA..") if (typeof document.onselectstart!="undefined") { document.onselectstart=new Function ("return false"); } else{ document.onmousedown=new Function ("return false"); document.onmouseup=new Function ("return true");

Senin, 18 Agustus 2014

PRODUKTIVITAS PRIMER DIBERBAGAI EKOSISTEM

Produktivitas Primer di Berbagai Ekosistem
Ekosistem Perairan Pedalaman (Tawar)
Ekosistem perairan di daratan secara umum dibagi menjadi 2 yaitu perairan mengalir (lotic water) dan perairan menggenang (lentic water). Perairan lotik dicirikan adanya arus yang terus menerus dengan
kecepatan bervariasi sehingga perpindahan massa air berlangsung terus-menerus, contohnya antara lain:    sungai, kali, kanal, parit, dan lain-lain. Perairan menggenang disebut juga perairan           tenang yaitu perairan dimana aliran air lambat atau bahkan tidak ada dan massa air terakumulasi dalam periode  waktu yang lama. Contoh perairan lentik antara lain: Waduk, danau, kolam, telaga, situ, belik (Winarno, dkk., 2000). Di perairan alami berupa danau banyak ditubuhi semak belukar dan pepohonan berupa Leptadenia sp., Balanites aegyptica, Acasia sp., Caloptropis procera yang ditemukan tumbuh sesudah kelompok palem (Hypphaene thebaica) kea rah daratanKomponen biotik yang terlibat dalam pembentukan materi organik di perairan tawar dapat meliputi plankton, bentos (mikroalga dan makroalga bentik)  serta  sekelompok ikan. (Sitorus 2009), melaporkan bahwa  produktivitas  di Perairan Danau Toba tertinggi pada stasiun yang kurang aktivitas manusia dan intesitas cahaya  serta konsentrasi klorofil-a yang tinggi yang memudahkan  untuk proses fotosintesis.

Ekosistem Pantai
Produktivitas  di suatu ekosistem perairan bergantung pada kondisi lingkungan perairan tersebut. Romihmohtarto dan Juwana (2007), melaporkan produktivitas Perairan pantai (nertik) tingkat produktivitas primer  lebih tinggi dibandingkan dengan perairan laut lepas (oseanik). Hardiyanto, dkk. (2012), menjelaskan lebih lanjut disebapkan perairan   pantai (neritik) kaya akan zat hara, sifat fisik kimiawi berfluktuasi akibat pengaruh dari daratan  dan densitas cahaya yang tinggi.
Di daerah pasang surut sendiri terdapat hutan bakau. Daerah paling atas   pantai dihuni oleh beberap jenis ganggang, moluska dan remis. Sedangkan pada  bagian  tengah ganggang, porifera, anemone laut, remis, siput dan kerang, ikan-ikan kecil, lamun. Pada bagian pantai terdalam banyak dihuni oleh                             jenis inverterbrata,  ikan  dan rumput laut (Asriyana dan Yuliana, 2012).
Ekosistem Laut Lepas
            Perairan   laut lepas  (oseanik) kurang akan kandungan zat hara, bagian permukaan dari perairan ini tempat kegiatan proses fotosintesis berlansung mengasilkan  oksigen  melebihi oksigen yang dibutuhkan dan pada bagian dasar perairan  lepas ini  justru    sebaliknya  produksi oksigen   lebih renda daripada   yang dimanfaatkan (Romihmohtarto dan Juwana, 2007).

Kawasan laut lepas akan mengalami peningkatan kandungan unsure           hara ketika perairan tersebut mengalami peristiwa upwelling. Seperti yang dilaporkan  oleh Edward dan Taringan (2003), Kadar fosfat dan nitrat di perairan                     Laut Banda relatif homogen dan meningkat kadarnya dengan bertambahnya kedalaman  laut   Kadar fosfat dan nitrat rata-rata pada pada bulan  Agustus cenderung lebih tinggi dibandingkan bulan Februari, Mei dan November.                         Kecenderungan peningkatan zat hara fosfat dan nitrat pada bulan Agustus memperlihatkan terjadinya proses upwelling di perairan Laut Banda                                  pada  musim  timur  dan  musim  peralihan  II.
Daerah Upwellin
    Daerah upwelling mempunyai produktivitas tinggi menyumbang fraksi  besar dalam produksi perikanan global (Nontji 2006 dalam Asriyana dan Yuliana, 2012). Fitoplankton berperan aktif dalam siklus rantai makanan. Organnisme yang mati akan tenggelam ke dasar peraran selanjutnya  akan membusuk dan nutrisi dalam tubuhnya akan terurai dalam air. Pada saat upwelling nutrisi yang ada  di  dasar perairan akan naik ke permukaan sehingga permukaan menjadi subur.
Menurut Syahailatua (2008), mekanisme  penyebab  pembentukan upwelling, terdapat beberpa jenis antara lain sebagai berikut:
a.    Ekman Pump
Penggerak utama massa air adalah angin.  Energi angin yang merupakan penyebab utama, ditransfer ke permukaan air dalam bentuk gesekan reynold.                 Pada lapisan ekman, transport massa air dipengaruhi oleh gaya coriolis.                Pergerakan massa air  di belahan utara  dibelokan ke kanan dan di belahan bumi selatan pergerakan massa air dibelokan ke kiri dari arah angin. Pergerakan akibat gaya coriolis disebut transport ekman.  Transport ekman dapat menjadi penyebab munculnya upwelling.  Contoh ekman transport yang menyebabkan upwelling terjadi di sebagian besar pantai barat benua atau pantai timur samudera.  Upwelling akibat Ekman transport diperaiaran pantai ini terjadi di pantai Peru, Pantai Oregon dan California di Amerika dan Pantai Senegal Afrika
b.  Defleksi
Upwelling dapat terjadi karena adanya defleksi atau pembelokan arus dalam oleh adanya Mid Ocean Ridge sehingga arus naik ke atas. Upwelling dapat terjadi oleh karena massa air  bergerak menaiki suatu dasar perairan yang berupa bukit kecil yang disebut guyot. Defleksi arus juga dapat terjadi  karena arus yang mengalir sejajar pantai terhalang punggung semenanjung sehingga arus mengalami defleksi
ke laut lepas.  Kekosongan massa air di bagian hilir tanjung atau headland mengakibatkan massa air yang berada di bawahnya mengisi kekosongan tersebut.
c. Pusaran  Siklon
Pusaran siklon berbeda antara belahan bumi utara dan belahan bumi selatan. Pada belahan bumi utara arah putaran siklon berlawanan dengan jarum jam (anti clockwise) sedangkan di belahan bumi selatan arah putarannya searah jarum jam (clockwise) Air yang terangkat (upwelled) lebih dingin daripada air yang biasa ditemukan dipermukaan dan lebih kaya nutrien. Nutrien penyubur fitoplankton pada lapisan tercampur (mixed layer), yang merupakan makanan zooplankton, yang dimakan oleh ikan-ikan kecil, yang merupakan makanan ikan-ikan lebih besar dan seterusnya.


REFERENSI


Asriyana dan Yuliana. 2012. Produktivitas Perairan. Fonemena Red Tide atau Kejadian Perubahan Warna di Permukaan Perairan Secara Dramatis Diakibatkan (Blooming) dari Fitoplankton. Bumi Aksara. Jakarta. 278 Hal.
Romimohtarto, K dan Juwana, S. 2007. Biologi Laut. Ilmu Pengetahuan Tentang  Biota Laut.  Djambatan.  Jakarta. 540 Hal.
Sitorus, M. 2009. Hubungan Nilai Produktivitas Primer dengan Konsentrasi Klorofil-a dan Faktor Fisik Kimia di Perairan Danau Toba. Program Studi Biologi Sekolah Pascasarjana. Universitas Sumutera Utara. 106 Hal.
Winarno, K., Astirin, O. P.,  Setyawan, A. D. 2000. Pemantauan Kualitas  Perairan Rawa Jabung Berdasarkan Keanekaragaman dan Kekayaan                   Komunitas Bentos. Jurusan Biologi. Universitas Surakarta.                    Surakarta. Jurnal Biosmart. (1) 40-46.    
Syahailatua, A. 2008. Dampak Perubahan Iklim Terhadap Perikanan. Bidang Sumberdaya Laut. LIPI. Jakarta. Jurnal Oseana (2) 25–32.


Tidak ada komentar: