Ekosistem
Perairan Pedalaman (Tawar)
Ekosistem perairan di daratan secara umum dibagi
menjadi 2 yaitu perairan mengalir (lotic water) dan perairan menggenang
(lentic water). Perairan lotik dicirikan adanya arus yang terus menerus
dengan
kecepatan bervariasi sehingga perpindahan massa air
berlangsung terus-menerus, contohnya antara lain: sungai, kali, kanal, parit,
dan lain-lain. Perairan menggenang disebut juga perairan tenang yaitu perairan dimana aliran
air lambat atau bahkan tidak ada dan massa air terakumulasi dalam periode waktu yang lama. Contoh perairan lentik
antara lain: Waduk, danau, kolam, telaga, situ, belik (Winarno, dkk., 2000). Di perairan alami
berupa danau banyak ditubuhi semak belukar dan pepohonan berupa Leptadenia sp., Balanites aegyptica, Acasia sp., Caloptropis procera yang ditemukan tumbuh sesudah kelompok palem (Hypphaene thebaica) kea rah daratanKomponen biotik yang terlibat dalam pembentukan
materi organik di perairan tawar dapat meliputi plankton, bentos (mikroalga dan
makroalga bentik) serta sekelompok ikan. (Sitorus 2009), melaporkan
bahwa produktivitas di Perairan Danau Toba
tertinggi pada stasiun yang kurang aktivitas manusia dan intesitas cahaya serta konsentrasi klorofil-a yang tinggi yang
memudahkan untuk proses
fotosintesis.
Ekosistem
Pantai
Produktivitas di suatu ekosistem perairan bergantung pada
kondisi lingkungan perairan tersebut. Romihmohtarto dan Juwana (2007),
melaporkan produktivitas Perairan pantai (nertik) tingkat produktivitas primer lebih tinggi dibandingkan
dengan perairan laut lepas (oseanik). Hardiyanto, dkk. (2012), menjelaskan lebih lanjut disebapkan
perairan pantai
(neritik) kaya akan zat hara, sifat fisik kimiawi berfluktuasi akibat pengaruh
dari daratan dan densitas cahaya yang
tinggi.
Di daerah pasang surut sendiri terdapat hutan
bakau. Daerah paling atas pantai dihuni oleh beberap jenis ganggang,
moluska dan remis. Sedangkan pada bagian tengah ganggang, porifera, anemone laut,
remis, siput dan kerang, ikan-ikan kecil, lamun. Pada bagian pantai terdalam banyak dihuni
oleh jenis
inverterbrata, ikan dan rumput laut (Asriyana dan Yuliana, 2012).
Ekosistem
Laut Lepas
Perairan
laut lepas (oseanik) kurang akan
kandungan zat hara, bagian permukaan dari perairan ini tempat kegiatan proses
fotosintesis berlansung mengasilkan
oksigen melebihi oksigen yang
dibutuhkan dan pada bagian dasar perairan
lepas ini justru sebaliknya
produksi oksigen lebih renda
daripada yang dimanfaatkan
(Romihmohtarto dan Juwana, 2007).
Kawasan laut lepas akan mengalami peningkatan kandungan unsure hara ketika perairan tersebut mengalami peristiwa upwelling. Seperti yang dilaporkan oleh Edward dan Taringan (2003), Kadar fosfat dan nitrat di perairan Laut Banda relatif homogen dan meningkat kadarnya dengan bertambahnya kedalaman laut Kadar fosfat dan nitrat rata-rata pada pada bulan Agustus cenderung lebih tinggi dibandingkan bulan Februari, Mei dan November. Kecenderungan peningkatan zat hara fosfat dan nitrat pada bulan Agustus memperlihatkan terjadinya proses upwelling di perairan Laut Banda pada musim timur dan musim peralihan II.
Daerah
Upwellin
Daerah
upwelling mempunyai produktivitas tinggi menyumbang fraksi besar dalam produksi perikanan global (Nontji
2006 dalam Asriyana dan Yuliana, 2012). Fitoplankton berperan aktif dalam
siklus rantai makanan. Organnisme yang mati akan tenggelam ke dasar peraran selanjutnya akan membusuk dan nutrisi dalam tubuhnya akan
terurai dalam air. Pada saat upwelling nutrisi yang ada di
dasar perairan akan naik ke permukaan sehingga permukaan menjadi subur.
Menurut
Syahailatua (2008), mekanisme penyebab
pembentukan upwelling, terdapat beberpa jenis antara lain sebagai berikut:
a. Ekman Pump
Penggerak utama massa air adalah angin.
Energi angin yang merupakan penyebab utama, ditransfer ke permukaan air dalam
bentuk gesekan reynold. Pada
lapisan ekman, transport massa air dipengaruhi oleh gaya coriolis. Pergerakan massa air di
belahan utara dibelokan ke kanan dan di belahan bumi selatan pergerakan
massa air dibelokan ke kiri dari arah angin. Pergerakan akibat gaya coriolis
disebut transport ekman. Transport ekman dapat menjadi penyebab
munculnya upwelling. Contoh ekman transport yang menyebabkan upwelling
terjadi di sebagian besar pantai barat benua atau pantai timur samudera.
Upwelling akibat Ekman transport diperaiaran pantai ini terjadi di pantai Peru,
Pantai Oregon dan California di Amerika dan Pantai Senegal Afrika
b. Defleksi
Upwelling dapat terjadi karena adanya defleksi
atau pembelokan arus dalam oleh adanya Mid Ocean Ridge sehingga arus naik ke
atas. Upwelling dapat terjadi oleh karena massa air bergerak menaiki
suatu dasar perairan yang berupa bukit kecil yang disebut guyot. Defleksi arus
juga dapat terjadi karena arus yang mengalir sejajar pantai terhalang
punggung semenanjung sehingga arus mengalami defleksi
ke laut lepas. Kekosongan massa air di bagian hilir
tanjung atau headland mengakibatkan massa air yang berada di bawahnya mengisi
kekosongan tersebut.
c.
Pusaran Siklon
Pusaran siklon berbeda antara belahan bumi utara dan belahan bumi selatan. Pada belahan bumi utara arah putaran siklon berlawanan dengan jarum jam (anti clockwise) sedangkan di belahan bumi selatan arah putarannya searah jarum jam (clockwise) Air yang terangkat (upwelled) lebih dingin daripada air yang biasa ditemukan dipermukaan dan lebih kaya nutrien. Nutrien penyubur fitoplankton pada lapisan tercampur (mixed layer), yang merupakan makanan zooplankton, yang dimakan oleh ikan-ikan kecil, yang merupakan makanan ikan-ikan lebih besar dan seterusnya.
REFERENSI
Asriyana dan
Yuliana. 2012. Produktivitas Perairan. Fonemena Red Tide atau Kejadian
Perubahan Warna di Permukaan Perairan Secara Dramatis Diakibatkan (Blooming)
dari Fitoplankton. Bumi Aksara. Jakarta. 278 Hal.
Romimohtarto, K
dan Juwana, S. 2007. Biologi Laut. Ilmu
Pengetahuan Tentang Biota Laut. Djambatan.
Jakarta. 540 Hal.
Sitorus, M. 2009. Hubungan Nilai Produktivitas Primer dengan
Konsentrasi Klorofil-a dan Faktor Fisik Kimia di Perairan Danau Toba. Program
Studi Biologi Sekolah Pascasarjana. Universitas Sumutera Utara. 106 Hal.
Winarno, K., Astirin,
O. P., Setyawan, A. D. 2000. Pemantauan Kualitas Perairan Rawa Jabung Berdasarkan
Keanekaragaman dan Kekayaan Komunitas Bentos. Jurusan
Biologi. Universitas Surakarta. Surakarta. Jurnal Biosmart.
(1) 40-46.
Syahailatua, A. 2008. Dampak
Perubahan Iklim Terhadap Perikanan. Bidang Sumberdaya Laut.
LIPI. Jakarta. Jurnal Oseana (2) 25–32.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar