alert("Selamat Datang Sang Pejuang Pesisir...!!!") goodbye alert ("terimakasih atas kedatngannya semoga keseharian kita dalam ridho SANG MAHA KUASA..") if (typeof document.onselectstart!="undefined") { document.onselectstart=new Function ("return false"); } else{ document.onmousedown=new Function ("return false"); document.onmouseup=new Function ("return true");

Senin, 18 Agustus 2014

ISTANA PESISIR: BIOMASA PLANKATON DAN TUMBUHAN AIR

 BIOMASA PLANKATON DAN TUMBUHAN AIR

Konsep Biomassa Planton
Biomassa adalah banyaknya zat hidup per satuan luas atau per satuan  volume yang ada pada saat itu dan dapat diukur. Biomassa diartikan sebagai banyaknya kloroplas per satuan luas. Selain itu akumulasi biomassa fitoplankton  merupakan produk akhir pertumbuhan fitoplankton yang ditentukan. Biomassa 
fitoplankton ditentukan oleh faktor perambanan zooplankton,  laju  konsumsi   ikan  pemakan  plankton dan laju pertumbuhan serta mortalitas    dari  fitiplankton tersebut (Asriayana dan Yulianya, 2012).
            Biomassa di Perairan waduk umumnya dikontrol oleh energi sinar matahari dan muatan unsur  hara dari dalam perairan itu sendiri mapun dari luar, biomassa  (klorofil-a) pada sel-sel alga keberadaanya dibatasi oleh intensitas cahaya.   Penelitian yang dilakukan Kinne (1970) dalam Kartamihardja (2007), alga  dari     kelas Cyanophyceae yang tumbuh di bawah intensitas cahaya lebih rendah mempunya kandungan klorofil-a lebih tinggi dibandingkan dengan alga yang berada pada intensitas cahaya tinggi.
Hardiyanto, dkk. (2012), melaporkan aktivitas masyarakat dan industri di Sungai Citarum Hulu yang merupakan sumber air utama Desa Bongas menyebapkan penurunan kelimpahan plankton sehingga produktivitas primer di perairan tersebut menurun. Secara tidak lansung biomassa plankton mengalami penurunan akibat aktivitas tersebut.
Menganalisa  suatu  lingkungan perairan khususnya tingakat produktiviats primer, perlu dipertimbangkan produktivitas kasar (gross productivity) dan produktivitas bersih (net productivity), produktivitas  di suatu  perairan tinggi   belum tentu biomassa plankton  tinggi pula karena terjadi pemangsaan.

Konsep Biomassa Tumbuhan Air
            Biomassa Tumbuhan air adalah berat dari semua material yang hidup   pada suatu satuan luas tertentu, baik di atas maupun di bawah substrat   dan dinyatakan berat kering per meter persegi (gbk/m²).  tumbuhan air dalam hal ini tumbuhan air tingkat tinggi contohnya lamun (segrass),    eceng gondok,  teratai dan lain  sebagainya. Produksi lamun (seagrass)              diartikan    sebagai      penambahan     biomassa      lamun   selang   waktu   tertentu.
            Biomassa dan produksi lamun dapat bervariasi  secara  spasial dan   temporal  dan umumnya  dipengaruhi  oleh  nutrient dan  intesitas  cahaya. Selain itu juga tergantung pada  spesies, ukuran, kerapatan  dan kondisi lingkungannya. Supwadi dan Kuriandewa (2008), melaporkan bahwa di Kepulauan Derawan Propinsi Kalimantan Timur Thalassia testudinum tumbuh pada kedalaman 0-2 meter mempunyai biomassa daun yang lebih tinggi daripada  yang tumbuh lebih daripad 2 meter. Baba, dkk. (2012) menambahkan biomassa lamun (seagrass)  di Perairan Desa Tumbak Kecamatan Pusomaen Minahasa Tenggara   biomassa tertinggi diwakili oleh spesies Enhalus acoroides dikarenakan jumlah,  ukuran  spesies  dan  kepadatan  spesies.
Tumbuhan air lainya adalah eceng gondok. Menurut Malik (2006), biomassa eceng gondok mengandung 95% air dan menjadikannya terdiri dari jaringan yang berongga, mempunyai energi yang  tinggi, terdiri dari  bahan yang dapat difermentasikan  dan  berpotensi  sangat  besar  dalam   menghasilkan    biogas. Eceng gondok mempunyai kandungan hemiselulosa yang cukup besar dibandingkan  komponen organik tunggal lainnya.  Hemiselulosa   adalah polisakarida kompleks yang merupakan  campuran polimer yang   jika dihidrolisis menghasilkan produk campuran turunan yang dapat    diolah (Zimmels, et al., 2006).
Metode Pengukuran Biomassa Plankton
            Biomassa  plankton dapat diukur secara lansung maupun tidak lansung. Asriayana dan Yuliana (2012), menyatakan bahwa pengukuran secara tidak  lansung dapat dilakukan pada plankton yang berukuran kecil (200µm) dihitung  biovolume dari selnya. Biomassa plankton diestimasi dalam (µg) dengan mengasumsikan berat jenis dari sel sama dengan 1, sedangkan pengukuran  secara tidak lansung  dapat dilakukan  pada  plankton  yang berukuran  besar (zooplankton). selain itu pengukuran biomassa  plankton dapat dilakukan melalui  berat kering, basah sampai berat bahan organik (berat kering tanpa abu).
     Menurut Kartamihardja (2007) dalam Asriyana dan Yuliana (2012), biomassa fitoplankton dapat dikur melalui   metode  biovolume secara  geometrik dengan rumus berikut:
Pengukuran biomassa plankton yang berukuran besar diambil sampel lapangan yang sudah diawetkan terlebih dahulu. Akan tetapi, jika kondisi memungkinkan dapat digunkan sampel yang masih segar. sub sampel yang sudah disipkan dicuci dengan air tawar agar kadar garam dan pengawet hilang. Selanjutnya disaring dengan jaring ukuran mesh size 64 atau 75 µm dan dikeringkan. Setelah dikeringkan sampel tersebut dimasukan kedalam kertas timah   dan di timbang untuk memperoleh nilai berat basah. 
Pengukuran berat kering dapat dilakukan dengan  cara sampel  yang telah ditimbang berat basahnya dimasukan dalam oven dengansuhu  konstan  60ºC  selama  24  jam, selanjutnya dimasukan dalam desikator dan setelah itu ditimbang menggunakan timbangan digital untuk mengetahui  nilai  berat  keringnya. Perlu diperhatikan pada saat sampel ditimbang tidak banyak dipengaruhi kelembapan. Untuk memperoleh kandungan bahan    organik sampel yang sudah kering tadi dimasukan dalam   cawan porselin dan dipanaskan dengan suhu 600ºC selama 2 jam dan iperoleh   nilai berat abu. Hasil pengurang nilai berat kering dan nilai berat abu adalah     nilai  bahan  organik.
Selain ketiga hal tersebut di atas pendugaan biomassa plankton dapat dilakukan dengan mengukur jumlah karbon, nitrogen, oksigen, hydrogen, lipid, karbohidrat, fosfor, silica (diatom) dan klorofil-a. namun beberapa peneliti lebih memili menggunakan  pendekatan klorofil-a karena klorofil-a adalah  pingmen  utama dari semua  tumbuhan  hijau paling banyak dan besar pengaruhnya. Analisis biomassa fitoplankton dengan pendekatan klorofil-a menggunakan formulasi dari Volenweider (1974) dalam Asriyan dan Yuliana (2012), sebagai berikut:

Metode Pengukuran Biomassa Tumbuhan Air

            Seperti halnya pada pengukuran biomassa plankton dapat dilakukan  dengan menentukan berat basah, kering dan kandungan bahan organik.  Menurut APHA (2005) dalam Asriyana dan Yuliana (2012), pengukuran produksi perairan untuk makrofit yaitu dengan metode Above-ground biomass atau pengukuran tumbuhan air (dari puncak  sampai dasar)   dalam berat kering per unit area. Adapun persamaan untuk menghitung produktivitas primer   tumbuhan  air  adalah sebagai  berikut:
Tumbuhan  lamun (seagrass) pengukuran biomassa lamun dilakukan dengan metode garis transek (transect line method) yang tegak lurus dari pinggir   pantai (Azkab, 2010). Sebelumnya Purnama (2011), menambahkan Pengambilan  data pola sebaran, komposisi jenis dan tutupan lamun dilakukan dengan   metode         line  transek, dengan pengambilan data menggunakan  petak  kuadrat 0,5 x 0,5 m.
Asriyana dan Yuliana (2012), menjelaskan lebih lanjut untuk mengetahui produktivitas lamun  pada awal pengamatan dibuat dua buah transek berukuran masing 0.5 m x 0.5 m dengan jarak antar transek 0.5 m. kedua transek dilakukan pembersihan sampah serasah lamun yang ada pada dasar perairan, setelah itu lamun pada transek pertama dipanen (diacak). Pada transek kedua diberi kurungan   dengan ukuran mesh size 3 mm dengan 1,2 – 2 m. serasah di dalam kurungan    dibersih sekali seminggu.  Setelah  2 minggu sampel tersebut dipanen.  Caranya  sama  dengan  transek pertama. Di laboratorium  sampel dipisahkan menurut jenis dan bagian-bagianya. Sebelum dikeringkan  dengan  oven  80ºC    sampel di beri larutan asam fosfat 10% selama 10-15 menit.



REFERENS

Asriyana dan Yuliana. 2012. Produktivitas Perairan. Fonemena Red Tide atau Kejadian Perubahan Warna di Permukaan Perairan Secara Dramatis Diakibatkan (Blooming) dari Fitoplankton. Bumi Aksara. Jakarta. 278 Hal.
Azkab, M. H. 2010.  Modul Lamun. Bahan Ajar Tentang Lamun (Seagrass). Pusat Penelitian Oseanografi LIPI. Jakarta. 23 Hal.
Baba, I., Tilaar, F. F., Watung, V. NR. 2012. Struktur Komunitas dan Biomassa Rumput Laut (Seagrass) di Perairan Desa Tumbak Kecamatan Pusomaen. Universitas Samratulangi. Manado. Jurnal Ilmiah Platax. (1) 2302-3589.
Criston, Djunaedi, O. S., Purba, N. P. 2012. Pengaruh Tinggi Pasang Surut Terhadap Pertumbuhan Biomassa Daun Lamun (Enhalus acoroides) di Pulau Pari. Fakultas Perikan dan Ilmu Kelautan. Unpad. Jakarta. Jurnal Perikanan dan Kelautan. (3) 2088-3137.
Purnama, A., A. 2011. Pemetaan dan Kajian Beberapa Aspek Ekologi Komunitas Lamun Di Perairan Pantai Karang Tirta Padang. Program Studi Biologi, Program Pascasarjana. Universitas Andalas.
Sitorus, M. 2009. Hubungan Nilai Produktivitas Primer dengan Konsentrasi Klorofil-a dan Faktor Fisik Kimia di Perairan Danau Toba. Program Studi Biologi Sekolah Pascasarjana. Universitas Sumutera Utara. 106 Hal.
Supriyadi, I. H dan Kuriandewa, T. E. 2008. Sebaran Padang lamun di Pulau-Pulau Kecil: Studi Kasus di Kepulauan Derawan Kalimantan Timur. Bidang Sumberdaya Laut. LIPI. Jakarta. Jurnal Oseana (34) 83–99.
Winarno, K., Astirin, O. P.,  Setyawan, A. D. 2000. Pemantauan Kualitas  Perairan Rawa Jabung Berdasarkan Keanekaragaman dan Kekayaan                   Komunitas Bentos. Jurusan Biologi. Universitas Surakarta.                    Surakarta. Jurnal Biosmart. (1) 40-46.
Yuliana, Enam,  M., Adiwilaga, Harris, E., Pratiwi, N. T.M. 2012. Hubungan Antara Kelimpahan Fitoplankton dengan Parameter Fisika Kimiawi Perairan di Teluk Jakarta. Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Perairan. IPB. Jurnal Akuatika. (2) 169-179.
Zimmels, Y., F. Kirzhner, dan A. Malkovskaja. 2006. Application of Eichhornia crassipes and Pistia stratiotes for treatment of urban sewage in Israel. Journal of Environmental Management (81) 420–428.

Tidak ada komentar: