Konsep Biomassa Planton
Biomassa adalah banyaknya zat hidup per
satuan luas atau per satuan volume
yang ada pada saat itu dan dapat diukur. Biomassa diartikan sebagai banyaknya
kloroplas per satuan luas. Selain itu akumulasi biomassa fitoplankton merupakan produk akhir pertumbuhan fitoplankton
yang ditentukan. Biomassa
fitoplankton
ditentukan oleh faktor perambanan zooplankton, laju
konsumsi ikan
pemakan plankton dan laju
pertumbuhan serta mortalitas dari
fitiplankton tersebut (Asriayana dan Yulianya, 2012).
Biomassa
di Perairan waduk umumnya dikontrol oleh energi sinar matahari dan muatan
unsur hara dari dalam perairan itu
sendiri mapun dari luar, biomassa (klorofil-a) pada
sel-sel alga keberadaanya dibatasi oleh intensitas cahaya. Penelitian yang dilakukan Kinne (1970) dalam
Kartamihardja (2007), alga dari kelas Cyanophyceae yang tumbuh di bawah
intensitas cahaya lebih rendah mempunya kandungan klorofil-a lebih tinggi
dibandingkan dengan alga yang berada pada intensitas cahaya tinggi.
Hardiyanto, dkk.
(2012), melaporkan aktivitas masyarakat dan industri di Sungai Citarum Hulu yang merupakan sumber
air utama Desa Bongas menyebapkan penurunan kelimpahan plankton sehingga
produktivitas primer di perairan tersebut menurun. Secara tidak lansung biomassa
plankton mengalami
penurunan akibat aktivitas tersebut.
Menganalisa suatu
lingkungan perairan khususnya tingakat produktiviats primer, perlu
dipertimbangkan produktivitas kasar (gross productivity) dan produktivitas
bersih (net productivity), produktivitas di suatu perairan tinggi belum tentu biomassa plankton tinggi pula karena terjadi pemangsaan.
Konsep Biomassa
Tumbuhan Air
Biomassa
Tumbuhan air adalah berat dari semua material yang hidup pada suatu satuan luas
tertentu, baik di atas maupun di bawah substrat dan dinyatakan berat
kering per meter persegi (gbk/m²).
tumbuhan air dalam hal
ini tumbuhan air tingkat tinggi contohnya lamun (segrass), eceng
gondok, teratai dan lain sebagainya. Produksi lamun (seagrass) diartikan sebagai penambahan biomassa lamun
selang waktu tertentu.
Biomassa
dan produksi lamun dapat bervariasi
secara spasial dan temporal dan umumnya
dipengaruhi oleh nutrient dan
intesitas cahaya. Selain itu juga tergantung
pada spesies, ukuran, kerapatan dan kondisi lingkungannya. Supwadi
dan Kuriandewa (2008), melaporkan bahwa di Kepulauan Derawan Propinsi Kalimantan Timur Thalassia testudinum tumbuh pada kedalaman 0-2 meter mempunyai
biomassa daun yang lebih tinggi daripada yang tumbuh lebih daripad 2 meter. Baba,
dkk. (2012) menambahkan biomassa lamun
(seagrass) di Perairan Desa Tumbak Kecamatan Pusomaen Minahasa
Tenggara biomassa tertinggi
diwakili oleh spesies Enhalus acoroides dikarenakan jumlah, ukuran spesies dan kepadatan
spesies.
Tumbuhan air lainya
adalah eceng gondok. Menurut Malik (2006), biomassa eceng gondok mengandung 95%
air dan menjadikannya terdiri dari jaringan yang berongga, mempunyai
energi yang tinggi, terdiri dari bahan yang dapat difermentasikan dan
berpotensi sangat besar
dalam menghasilkan biogas. Eceng gondok
mempunyai kandungan hemiselulosa yang cukup besar dibandingkan komponen organik tunggal lainnya. Hemiselulosa adalah polisakarida
kompleks yang merupakan campuran polimer
yang jika
dihidrolisis menghasilkan produk campuran turunan yang dapat diolah (Zimmels, et al.,
2006).
Metode Pengukuran Biomassa Plankton
Biomassa plankton
dapat diukur secara lansung maupun tidak lansung. Asriayana dan Yuliana (2012),
menyatakan bahwa pengukuran secara tidak lansung dapat dilakukan pada
plankton yang berukuran kecil (200µm) dihitung
biovolume dari selnya. Biomassa plankton diestimasi dalam (µg) dengan
mengasumsikan berat jenis dari sel sama dengan 1, sedangkan pengukuran secara tidak lansung dapat dilakukan pada
plankton yang berukuran besar (zooplankton). selain itu pengukuran
biomassa plankton dapat dilakukan melalui berat kering, basah sampai berat bahan
organik (berat kering tanpa abu).
Menurut Kartamihardja (2007) dalam Asriyana dan Yuliana
(2012), biomassa fitoplankton dapat dikur melalui metode
biovolume secara geometrik dengan
rumus berikut:
Pengukuran biomassa plankton yang berukuran
besar diambil sampel lapangan yang sudah diawetkan terlebih dahulu. Akan
tetapi, jika kondisi memungkinkan dapat digunkan sampel yang masih segar. sub
sampel yang sudah disipkan dicuci dengan air
tawar agar kadar garam dan pengawet hilang. Selanjutnya disaring dengan
jaring ukuran mesh size 64 atau 75 µm
dan dikeringkan. Setelah dikeringkan sampel tersebut dimasukan kedalam kertas
timah dan di
timbang untuk memperoleh nilai berat basah.
Pengukuran berat kering dapat dilakukan dengan cara sampel yang telah ditimbang
berat basahnya dimasukan dalam oven dengansuhu konstan
60ºC selama 24 jam,
selanjutnya dimasukan dalam desikator dan setelah
itu ditimbang menggunakan timbangan digital untuk
mengetahui nilai berat
keringnya. Perlu diperhatikan pada saat sampel ditimbang tidak banyak
dipengaruhi kelembapan. Untuk memperoleh kandungan bahan organik sampel yang sudah kering tadi
dimasukan dalam cawan porselin
dan dipanaskan dengan suhu 600ºC selama 2 jam dan iperoleh nilai berat abu. Hasil pengurang nilai berat
kering dan nilai berat abu adalah nilai bahan
organik.
Selain ketiga hal tersebut di atas
pendugaan biomassa plankton dapat dilakukan dengan mengukur jumlah karbon,
nitrogen, oksigen, hydrogen, lipid, karbohidrat, fosfor, silica (diatom) dan
klorofil-a. namun beberapa peneliti lebih memili menggunakan pendekatan klorofil-a karena klorofil-a
adalah pingmen utama dari semua tumbuhan
hijau paling banyak dan besar pengaruhnya. Analisis biomassa fitoplankton dengan pendekatan klorofil-a menggunakan formulasi dari Volenweider (1974) dalam Asriyan dan Yuliana (2012), sebagai berikut:
Metode
Pengukuran Biomassa Tumbuhan Air
Seperti halnya pada pengukuran biomassa plankton
dapat dilakukan dengan
menentukan berat basah, kering dan kandungan bahan organik. Menurut APHA
(2005) dalam Asriyana dan Yuliana (2012), pengukuran produksi perairan untuk
makrofit yaitu dengan metode Above-ground biomass atau pengukuran tumbuhan air (dari puncak sampai dasar) dalam berat kering per unit area. Adapun persamaan
untuk menghitung produktivitas primer tumbuhan air
adalah sebagai berikut:
Tumbuhan lamun (seagrass) pengukuran biomassa lamun
dilakukan dengan metode garis
transek (transect line method) yang tegak lurus dari pinggir pantai (Azkab, 2010). Sebelumnya Purnama
(2011), menambahkan Pengambilan data pola sebaran, komposisi jenis
dan tutupan lamun dilakukan dengan metode
line transek, dengan pengambilan data menggunakan petak
kuadrat 0,5 x 0,5 m.
Asriyana dan Yuliana
(2012), menjelaskan lebih lanjut untuk mengetahui produktivitas lamun pada awal pengamatan dibuat dua buah transek
berukuran masing 0.5 m x 0.5 m dengan jarak antar transek 0.5 m. kedua transek
dilakukan pembersihan sampah serasah lamun yang ada pada dasar perairan,
setelah itu lamun pada transek pertama dipanen (diacak). Pada transek kedua
diberi kurungan dengan ukuran mesh size 3 mm dengan 1,2 – 2 m. serasah di dalam kurungan dibersih sekali seminggu. Setelah 2 minggu sampel tersebut dipanen. Caranya sama
dengan transek pertama. Di
laboratorium sampel dipisahkan menurut jenis dan bagian-bagianya. Sebelum
dikeringkan dengan oven
80ºC sampel di beri larutan asam
fosfat 10% selama 10-15 menit.
REFERENS
Asriyana dan
Yuliana. 2012. Produktivitas Perairan. Fonemena Red Tide atau Kejadian
Perubahan Warna di Permukaan Perairan Secara Dramatis Diakibatkan (Blooming)
dari Fitoplankton. Bumi Aksara. Jakarta. 278 Hal.
Azkab, M. H. 2010. Modul
Lamun. Bahan Ajar Tentang Lamun (Seagrass). Pusat Penelitian Oseanografi LIPI. Jakarta. 23 Hal.
Baba, I.,
Tilaar, F. F., Watung, V. NR. 2012. Struktur Komunitas dan Biomassa Rumput Laut (Seagrass) di Perairan Desa Tumbak Kecamatan
Pusomaen. Universitas Samratulangi. Manado. Jurnal Ilmiah Platax. (1) 2302-3589.
Criston,
Djunaedi, O. S., Purba, N. P. 2012. Pengaruh Tinggi Pasang Surut Terhadap
Pertumbuhan Biomassa Daun Lamun (Enhalus
acoroides) di Pulau Pari. Fakultas Perikan dan Ilmu Kelautan. Unpad.
Jakarta. Jurnal Perikanan dan Kelautan. (3) 2088-3137.
Purnama, A., A. 2011. Pemetaan
dan
Kajian Beberapa
Aspek Ekologi Komunitas Lamun Di Perairan Pantai
Karang Tirta Padang.
Program Studi Biologi, Program
Pascasarjana. Universitas Andalas.
Sitorus, M.
2009. Hubungan Nilai Produktivitas Primer
dengan Konsentrasi Klorofil-a dan Faktor Fisik Kimia di Perairan Danau Toba.
Program Studi Biologi Sekolah Pascasarjana. Universitas Sumutera Utara. 106
Hal.
Supriyadi, I. H dan Kuriandewa, T. E. 2008. Sebaran Padang lamun di Pulau-Pulau Kecil: Studi
Kasus di Kepulauan Derawan Kalimantan Timur. Bidang Sumberdaya
Laut. LIPI. Jakarta. Jurnal Oseana (34) 83–99.
Winarno, K.,
Astirin, O. P., Setyawan, A. D. 2000. Pemantauan Kualitas Perairan Rawa Jabung Berdasarkan
Keanekaragaman dan Kekayaan Komunitas Bentos. Jurusan
Biologi. Universitas Surakarta. Surakarta. Jurnal Biosmart.
(1) 40-46.
Yuliana,
Enam, M., Adiwilaga, Harris, E.,
Pratiwi, N. T.M. 2012. Hubungan Antara Kelimpahan Fitoplankton dengan Parameter
Fisika Kimiawi Perairan di Teluk Jakarta. Program Studi Pengelolaan Sumberdaya
Perairan. IPB. Jurnal Akuatika. (2) 169-179.
Zimmels, Y., F.
Kirzhner, dan A. Malkovskaja. 2006. Application
of Eichhornia crassipes and Pistia stratiotes for treatment of urban sewage in
Israel. Journal of Environmental Management (81) 420–428.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar