ekosistem Terumbu Karang
Terumbu karang
adalah struktur di dasar laut berupa deposit kalsium karbonat di laut yang
dihasilkan terutama oleh hewan kakarang. Karang adalah hewan tak bertulang
belakang yang termasuk dalam Filum Coelenterata (hew an berrongga) atau
Cnidaria. Yang disebut sebagai karang (coral) mencakup karang dari Ordo
scleractinia dan Sub kelas Octocorallia (kelas Anthozoa) maupun kelas Hydrozoa.
Lebih lanjut dalam makalah ini pembahasan lebih menekankan pada karang sejati
(Scleractinia).
Koloni
karang dibentuk oleh ribuan hewan kecil yang disebut polip. Dalam bentuk sederhananya, karang
terdiri dari satu polip saja yang mempunyai bentuk tubuh seperti tabung dengan
mulut yang terletak di bagian atas dan dikelilingi oleh Tentakel. Namun pada kebanyakan Spesies, satu individu polip karang akan berkembang menjadi banyak
individu yang disebut koloni. Hewan ini memiliki bentuk unik dan warna beraneka
rupa serta dapat menghasilkan CaCO3. Terumbu karang merupakan habitat bagi
berbagai spesies tumbuhan laut, hewan laut, dan mikroorganisme laut lainnya yang belum diketahui. (Anonymous, 2010).
Satu individu karang atau disebut
polip karang memiliki ukuran yang bervariasi mulai dari yang sangat
kecil 1 mm hingga yang sangat besar yaitu lebih dari 50 cm. Namun yang pada
umumnya polip karang berukuran kecil. Polip dengan ukuran besar dijumpai pada
karang yang soliter.
Anatomi karang atau disebut polip
memiliki bagian-bagian tubuh terdiri dari:
1. Mulut dikelilingi
oleh tentakel yang berfungsi untuk menangkap mangsa dari perairan serta
sebagai alat pertahanan diri.
2. Rongga tubuh (coelenteron)
yang juga merupakan saluran pencernaan (gastrovascular)
3. dua lapisan tubuh yaitu
ektodermis dan endodermis yang lebih umum disebut gastrodermis karena
berbatasan dengan saluran pencernaan. Di antara kedua lapisan terdapat jaringan
pengikat tipis yang disebut mesoglea. Jaringan ini terdiri dari sel-sel, serta
kolagen, dan mukopolisakarida. Pada sebagian besar karang, epidermis akan
menghasilkan material guna membentuk rangka luar karang. Material tersebut
berupa kalsium karbonat (kapur). Bertempat di gastrodermis, hidup zooxanthellae
yaitu alga uniseluler dari kelompok Dinoflagelata, dengan w arna coklat atau
coklat kekuning-kuningan. Mengapa zooxanthellae ada dalam tubuh karang,
kemudian apa perannya serta bentuk hubungan seperti apa yang ada antara karang
dan zoox akan dibahas lebih lanjut pada bagian Asosiasi Zooxanthellae dengan
karang.
Karang dapat menarik dan menjulurkan
tentakelnya. Tentakel tersebut aktif dijulurkan pada malam hari, saat karang
mencari mangsa, sementara di siang hari tentekel ditarik masuk kedalam rangka.
Di ektodermis tentakel terdapat sel penyengatnya (knidoblas) , yang merupakan
ciri khas semua hew an Cnidaria. Knidoblas dilengkapi alat penyengat
(nematosita) beserta racun didalamnya. Sel penyengat bila sedang tidak
digunakan akan berada dalam kondisi tidak aktif,dan alat sengat berada di dalam
sel. Bila ada zooplankton atau hew an lain yang akan ditangkap, maka alat penyengat
dan racun akan dikeluarkan.
Karang memiliki dua cara untuk
mendapatkan makan, yaitu menangkap zooplankton yang melayang dalam air dan
menerima hasil fotosintesis zooxanthellae. Hasil fotosintesis zooxanthellae
yang dimanfaatkan oleh karang, jumlahnya cukup untuk memenuhi kebutuhan proses
respirasi karang tersebut (Muller-Parker & D’Elia 2001). Sebagian ahli lagi
mengatakan sumber makanan karang 75-99% berasal dari zooxanthellae (Tucket
& Tucket 2002, dalam Timotius S, 2003).
Asosiasi karang dengan zoxanthellae
adalah alga dari kelompok Dinoflagellata yang bersimbiosis pada hew an, seperti
karang, anemon, moluska dan lainnya. Sebagian besar zooxanthella berasal dari
genus Symbiodinium. Jumlah zooxanthellae pada karang diperkirakan > 1
juta sel/cm2 permukaan karang, ada yang mengatakan antara 1-5 juta sel/cm2.
Meski dapat hidup tidak terikat induk, sebagian besar zooxanthellae melakukan
simbiosis. Dalam asosiasi ini, karang mendapatkan sejumlah keuntungan berupa
hasil fotosintesis, seperti gula, asam amino, dan oksigen.
Bagi zooxanthellae, karang adalah
habitat yang baik karena merupakan pensuplai terbesar zat anorganik untuk
fotosintesis. Sebagai contoh Bytell menemukan bahw a untuk zooxanthellae dalam Acropora
palmata suplai nitrogen anorganik, 70% didapat dari karang. Anorganik itu
merupakan sisa metabolisme karang dan hanya sebagian kecil anorganik diambil
dari perairan.
Bagaimana zooxanthellae dapat berada
dalam karang, terjadi melalui beberapa mekanisme terkait dengan reproduksi
karang. Dari reproduksi secara seksual, karang akan mendapatkan zooxanthellae
langsung dari induk atau secara tidak langsung dari lingkungan. Sementara dalam
reproduksi aseksual, zooxanthellae akan langsung dipindahkan ke koloni baru
atau ikut bersama potongan koloni karang yang lepas. Mekanisme reproduksi lebih
lanjut dijelaskan pada bagian selanjutnya.
Seperti hewan lain, karang memiliki
kemampuan reproduksi secara aseksual dan seksual. Reproduksi aseksual adalah
reproduksi yang tidak melibatkan peleburan gamet jantan (sperma) dan gamet
betina (ovum). Pada reproduksi ini, polip/koloni karang membentuk polip/koloni
baru melalui pemisahan potongan-potongan tubuh atau rangka. Ada pertumbuhan
koloni dan ada pembentukan koloni baru. Reproduksi seksual adalah reproduksi
yang melibatkan peleburan sperma dan ovum (fertilisasi). Sifat reproduksi ini
lebih komplek karena selain terjadi fertilisasi, juga melalui sejumlah tahap
lanjutan (pembentukan larva, penempelan baru kemudian pertumbuhan dan
pematangan).
Kerusakan Ekosistem Terumbu Karang
Kerusakan terumbu karang disebabkan
oleh beberapa hal diantaranya:
A.
Bioerosi
Proses biologi yang bersifat merusak
struktur terumbu karang yang umumnya disebut bioerosi. Bioerosi merupakan
penghilangan CaCO3 dari terumbu atau dari koloni karang oleh proses-proses
biologi. Organisme yang melalui aktivitasnya menyebabkan rangka kapur
karang-karang pembentuk terumbu mengalami erosi dan melemah disebut bioeroder.
Berdasar lokasi organisme itu berada dalam substrat kapur, bioeroder dapat
dikelompokkan menjadi: Epilit (hidup di permukaan); kasmolit (dalam lubang dan
celah); serta endolit (dalam rangka). Kelompok bioeroder tersebut
mencakup Microborer (alga, jamur dan bakteri). Kelompok ini berperan
sebagai pionir proses bioerosi, yang kemudian diikuti oleh macroborer
(spon; gastropoda;barnakel; Sipunkulus; Polychaeta) Erosi yang diakibatkan
terjadi di permukaan maupun hingga ke bagian dalam rangka terumbu. Bakteri
mampu mencerna matriks organik kapur dan menyebabkan bioerosi bagian dalam.
Jamur dengan senyaw a kimia yang dihasilkan dapat menggores permukaan karang,
melunakkan, dan merusak kapur. Grazer: Scaridae (ikan kakatua), (Timotius S, 2003).
Dijelaskan juga oleh Anonymaus, (2008) pemangsaan terhadap
terumbu karang dilakukan oleh predatornya yaitu Acanthaster planci,
Chaetodontidae, Tetraodontidae).
B. Kerusakan terumbu karang oleh
perubahan fisika kimia air laut
Peruban fisika dan kimia air laut
pada kondisi tertentu menyebabkan kematian atau karusakan terumbu karang.
Dijelaskan oleh Westmacott S, et al.,
(2000), Tekanan penyebab pemutihan antara lain tingginya suhu air laut yang
tidak normal, tingginya tingkat sinar ultraviolet, kurangnya cahaya,
tingginya tingkat kekeruhan dan sedimentasi air, penyakit, kadar garam yang
tidak normal dan polusi. Mayoritas pemutihan karang secara besarbesaran dalam
kurun waktu dua dekade terakhir ini berhubungan dengan peningkatan suhu
permukaan laut (SPL) dan khususnya pada HotSpots. HotSpot adalah
daerah dimana SPL naik hingga melebihi maksimal perkiraan tahunan (suhu tertinggi
pertahun dari rata-rata selama 10 tahun) dilokasi tersebut. Apabila HotSpot dari
1°C diatas maksimal tahunan bertahan selama 10 minggu atau lebih, pemutihan
pasti terjadi. Dampak gabungan dari tingginya SPL dan tingginya tingkat sinar
matahari (pada gelombang panjang ultraviolet) dapat mempercepat proses
pemutihan dengan mengalahkan mekanisme alami karang untuk melindungi dirinya
sendiri dari sinar matahari yang berlebihan.
Perubahan yang ektrim pada
faktor-faktor pembatas seperti suhu, salinitas, salinitas, cahaya, kecerahan,
gelombang dan arus akan sangat mempengaruhi pertumbuhan terumbu karang
bahkan bisa merusak dan mematikan terumbu karang. Anonymaus, (2008) menjelaskan secara global, sebarang terumbu
karang dunia dibatasi oleh permukaan laut yang isoterm pada suhu 20 °C, dan
tidak ada terumbu karang yang berkembang di bawah suhu 18 °C. Terumbu karang
tumbuh dan berkembang optimal pada perairan bersuhu rata-rata tahunan 23-25 °C,
dan dapat menoleransi suhu sampai dengan 36-40 °C. Terumbu karang hanya dapat
hidup di perairan laut dengan salinitas normal 3235 ‰. Umumnya terumbu karang
tidak berkembang di perairan laut yang mendapat limpasan air tawar teratur dari
sungai besar, karena hal itu berarti penurunan salinitas. Contohnya di delta
sungai Brantas (Jawa Timur). Di sisi lain, terumbu karang dapat berkembang di
wilayah bersalinitas tinggi seperti Teluk Persia yang salinitasnya 42 %. udara
terbuka merupakan faktor pembatas karena dapat mematikan jaringan hidup dan
alga yang bersimbiosis di dalamnya. Gelombang merupakan faktor pembatas karena
gelombang yang terlalu besar dapat merusak struktur terumbu karang, contohnya
gelombang tsunami. Namun demikian, umumnya terumbu karang lebih berkembang di
daerah yang memiliki gelombang besar. Aksi gelombang juga dapat memberikan
pasokan air segar, oksigen, plankton, dan membantu menghalangi terjadinya
pengendapan pada koloni atau polip karang. Faktor arus dapat berdampak baik
atau buruk. Bersifat positif apabila membawa nutrien dan bahan-bahan organik
yang diperlukan oleh karang dan zooxanthellae, sedangkan bersifat negatif
apabila menyebabkan sedimentasi di perairan terumbu karang dan menutupi
permukaan karang sehingga berakibat pada kematian karang.
C. Kerusakan oleh Kegiatan Manusia
Di Pasifik
bagian barat, SPL berada diatas batas selama lebih dari 5 bulan dibeberapa
tempat. Beberapa bagian dari Great Barrier Reef mengalami pemutihan,
dengan kematian karang mencapai 70–80% dibeberapa lokasi (Goreau et al.,
2000) sedangkan ditempat lain kematian karang kurang dari 17% (Wilkinson,
1998). Beberapa terumbu di Filipina, Papua Nugini dan Indonesia juga menderita,
walaupun banyak terumbu di Indonesia bagian tengah selamat karena naiknya air
dingin dari bawah laut (upwelling) (Westmacott S, et al., 2000).
Kerusakan
yang terjadi yang paling besar dilakukan oleh berbagai kegiatan yang dilakukan
oleh manusia. Kegiatan manusia bisa secara langsung dan tidak langsung.
Kegiatan manusia yang secara langsung adalah kegiatan manusia yang secara
langsung berhubungan dengan terumbu karang dan menyebabkan kerusakan dan
kematian. Sedangkan kegiatan tidak langsung adalah kegiatan yang dilakukan
manusia didarat yang menyebabkan kerusakan lingkungan lain yang dampaknya juga
mengakibatkan rusaknya fisik maupun kimia lingkungan terumbu karang. Contohnya
penebangan hutan yang mengakibatkan banjir bandang dan lumpurnya langsung
kelaut, polusi udara yang menyebakan perubahan iklim dan lain sebagainya.
Masalah yang lebih rumit adalah ada sekelompok masyarakat
yang berpendidikan dan bermodal kuat menggunakan bahan-bahan cyanida dan bom
serta didukung dengan kapal dan peralatan selam untuk mengeksploitasi
sumberdaya ikan karang serta berkompetisi dengan masyarakat nelayan
tradisional. Modal dan keuntungan mereka digunakan juga untuk menetapkan
kolusi dengan penguasa tertentu, sehingga bila tertangkap sering mengalami
kesulitan untuk dihukum. Ekosistem terumbu karang mempunya potensi ekonomi yang
sangat besar mendorong pengambilan sumberdaya yang dikandungnya secara berlebihan (over exploitation) serta
kurang mengindahkan kaidah-kaidah konservasi. Karena adanya asumsi bahwa
sumberdaya yang berada di ekosistem terumbu karang adalah milik bersama (common
property), sehingga bila mereka tidak emanfaatkannya pada saat ini, maka akan
dimanfaatkan orang lain (tragedy of
common). Untuk mengeksploitasi sumberdaya hayati tersebut,
sebagian besar dari mereka menggunakan racun cyanida, bahan peledak, muro ami,
dan bubu yang semuanya itu merusak ekosistem terumbu karang. Para
pengguna racun Cyanida umumnya bermaksud menangkap ikan karang untuk
dipasarkan dalam keadaan hidup di negara tertentu, sehingga mereka membentuk
jaringan penangkap dan pemasaran secara internasional. Sedang ikan-ikan
yang dibom biasanya mati dan mengalami kehancuran sehingga perlu dipasarkan
dalam skala propinsi, regional atau nasional, (Tinungki GM., 2001)
Kegiatan Manusia Yang Mempengaruhi
Ekosistem Terumbu Karang
Banyak tuduhan yang dialamatkan pada
manusia sebagai penghancur homeostatis alam. Thomas Berry berbicara tentang
manusia sebagai makhluk bumi yang jahat dan perusak. Ia juga menyebut kehadiran
manusia sebagai penyebab penderitaan dunia. Bonaventura, filsuf-teolog di zaman
patristik, dalam bukunya, “Perjalanan
Menuju Jiwa Allah”, juga menyebut alam semesta sebagai ”kitab alam” yang
ditulis Allah sebagai media manusia untuk bersatu dengan-Nya. Pasalnya, alam
adalah ”sakramen” Tuhan, tangga untuk menuju keharmonisan bersama Sang Khalik.
Sehingga, jika kita menyadari hal tersebut, tentu visi dan misi teologi kita harus
sampai pada aspek keselamatan (soteriologi) yang bersifat universal,
yaitu keselamatan yang menjangkau seluruh ciptaan Tuhan (manusia, alam, dan
sebagainya) dalam rumah tangga dunia, (Gulo
P., 2007).
Pemutihan akibat perubahan iklim
bukanlah satu-satunya ancaman bagi terumbu karang. Para peneliti dan pengelola
telah prihatin selama bertahun-tahun akan meningkatnya dampak kegiatan manusia
yang menurunkan kondisi terumbu karang dunia (Brown, 1987; Salvat,
1987;Wilkinson, 1993; Bryant et al., 1998; Hodgson, 1999). Perkiraan
terakhir menunjukkan bahwa 10% dari terumbu karang dunia telah mengalami
degradasi yang tak dapat dipulihkan dan 30% lainnya dipastikan akan mengalami
penurunan berarti dalam kurun waktu 20 tahun mendatang (Jameson et al., 1995).
Analisa ancaman-ancaman yang potensial bagi terumbu karang dari kegiatan
manusia (pembangunan daerah pesisir, eksploitasi berlebihan dan praktek
perikanan yang merusak, polusi darat dan erosi dan polusi laut) di tahun 1998
memperkirakan bahwa 27% dari terumbu berada di tingkat berisiko tinggi dan 31%
lainnya berada di risiko sedang (Bryant et al., 1998)., (Westmacott
S, et al., 2000).
Ancaman-ancaman ini sebagian besar
merupakan hasil dari kenaikan penggunaan sumber-sumber pesisir oleh populasi
pesisir yang berkembang secara cepat, ditunjang oleh kurangnya perencanaan dan
pengelolaan yang tepat. Terumbu yang telah mengalami tekanan akibat kegiatan
manusia dapat menjadi lebih rentan untuk memutih bilamana HotSpots
meluas, karena karang yang telah lemah dapat berkurang kemampuannya
menghadapi naiknya suhu permukaan laut sebagai tekanan tambahan. Lebih lanjut
lagi bahkan setelah suhu permukaan laut kembali normal, dampak manusia dapat
menghambat pertumbuhan dan perkembangan karang baru.Tentunya, terumbu yang pernah
dihadapkan pada gangguan manusia yang berlanjut seringkali menunjukkan
kemampuan yang rendah untuk pulih (Brown, 1997; Westmacott S, et al., 2000).
Lebih lanjut Westmacott S, et al., (2000) mengatakan, terumbu
yang tidak diganggu oleh kegiatan manusia dapat memiliki kemampuan yang lebih
baik untuk pulih, bila keadaan lingkungan optimal untuk pertumbuhan dan
perkembangan karang. Secara historis, terumbu karang telah mampu pulih dari
gangguan alam berkala (contohnya topan, predator yang berlebihan, dan beragam
penyakit). Justru gangguan kronis dari kegiatan manusialah yang leih merusak
saat ini. Ini membawahi pentingnya sedapat mungkin menghilangkan seluruh dampak
langsung negatif manusia untuk member terumbu kesempatan terbaik agar pulih
dari pemutihan. Dampak tersebut dihasilkan dari serangkaian kegiatan
diantaranya:
•
Pembangunan pesisir untuk perumahan, resort, hotel, industri, pelabuhan
dan pembangunan marina seringkali menyebabkan reklamasi daratan dan penggerukan
tanah. Ini dapat meningkatkan sedimentasi (sehingga mengurangi cahaya dan
menutupi karang) dan menimbulkan kerusakan fisik langsung bagi terumbu.
•
Pengelolaan yang tidak berkelanjutan di daerah aliran sungai yang
disesuaikan dan daerah pesisir, termasuk pengurangan lahan hutan, pertanian yang
buruk dan praktek pemanfaatan lahan yang buruk, mengacu kepada pengaliran
pestisida (yang membahayakan organism terumbu karang), pupuk (yang menyebabkan
bertambahnya nutrisi) dan sedimentasi.
•
Eksploitasi berlebihan dapat mengakibatkan sejumlah perubahan pada terumbu
karang. Penangkapan jenis ikan pemakan alga yang berlebihan dapat mengakibatkan
pertumbuhan alga yang eksesif, penangkapan yang berlebihan dari jenis ikan yang
berperan amat penting dalam ekosistem terumbu dapat mengakibatkan meledaknya populasi
jenis lain dibagian manapun dari rantai makanan.
•
Kegiatan perikanan yang merusak, seperti memakai alat peledak dan
penggunaan jaring insang dan pukat dapat membuat kerusakan fisik yang ekstensif
bagi terumbu karang dan mengakibatkan tingginya persentase kematian ikan yang
belum dewasa (yaitu bibit ikan dewasa dimasa mendatang). Penggunaan sianida dan
racun lain untuk menangkap ikan akuarium juga berdampak negatif.
•
Pembuangan limbah industri dan rumahtangga meningkatkan tingkat nutrisi
dan racun dilingkungan terumbu karang. Pembuangan limbah tak diolah langsung ke
laut menambah nutrisi dan pertumbuhan alga yang berlebihan. Limbah kaya nutrisi
dari pembuangan atau sumber lain khususnya amat mengganggu, karena mereka
meningkatkan perubahan besar dari struktur terumbu karang secara perlahan dan
teratur. Alga mendominasi terumbu hingga melenyapkan karang pada akhirnya.
• Kegiatan
kapal dapat berdampak bagi terumbu melalui tumpahan minyak dan pembuangan dari ballast
kapal. Walaupun konsekuensinya kurang dikenal, hal ini berdampak lokal yang
berarti. Kerusakan fisik secara langsung dapat terjadi karena kapal membuang
sauh di terumbu karang dan pendaratan kapal tak disengaja.
• Banyak
kegiatan lain yang terjadi langsung di terumbu karang menyebabkan kerusakan
fisik bagi karang dan oleh karena itu mempengaruhi integritas struktur karang.
Kerusakan seperti ini seringkali terjadi dalam hitungan menit tetapi tahunan
untuk memperbaikinya. Sebagai tambahan dari kegiatan sebagaimana disebutkan
diatas, kerusakan dapat pula disebabkan karena orang menginjak karang untuk
mengumpulkan kerang dan organisme lain didataran terumbu karang atau di daerah
terumbu karang yang dangkal, dan penyelam (diving maupun snorkel)
berdiri diatas atau mengetuk-ketuk terumbu karang.
Di
jelaskan pula oleh Burke et al .,
(2002) dalam Sudiono
G., (2008) bahwa terdapat beberapa penyebab kerusakan terumbu karang
yaitu:
(1)
Pembangunan di wilayah pesisir yang tidak dikelola dengan baik;
(2)
Aktivitas di laut antara lain dari kapal dan pelabuhan termasuk akibat langsung
dari pelemparan jangkar kapal;
(3)
Penebangan hutan dan perubahan tata guna lahan yang menyebabkan peningkatan
sedimentasi;
(4)
Penangkapan ikan secara berlebihan memberikan dampak terhadap keseimbangan yang
harmonis di dalam ekosistem terumbu karang;
(5)
Penangkapan ikan dengan menggunakan racun dan bom; dan
(6)
Perubahan iklim global.
R
Referensi:
...........................
Tidak ada komentar:
Posting Komentar